Showing posts with label Program Hamil. Show all posts
Showing posts with label Program Hamil. Show all posts

Kembali Promil Part 4: Operasi Varikokel

Halo pejuang garis dua! Sudah setahun sy tidak update blog karena kesibukan di tempat kerja nih. Sy mau lanjutin cerita promil setelah gagal inseminasi ya!


Well, setelah gagal inseminasi Desember 2020 lalu, sy dan suami rehat sebentar dari dunia per-promilan. Kita berpikir kira-kira mau lanjut IVF atau operasi varikokel ya. Setelah banyak pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk operasi varikokel saja. Alasannya: kita mau memperbaiki “dasar”nya dulu, biar “dasar”nya tuntas dan tenang jika akan melangkah ke tahapan tertinggi dari promil yaitu IVF.


Oiya, setelah hasil inseminasi diketahui dan gagal, sy merutinkan olahraga di rumah. Saat itu di kantor ada agenda HUT dan sy diminta untuk join grup “line dance” sbg performance di hari H HUT hehe. Sejak itulah (akhir Des 2020) sy mulai rutin olahraga line dance. Sehari 2x, pagi dan sore, masing-masing sy lakukan selama 10 menit. Itupun sudah sangat kerasa di badan dan keringat mengucur hehe.


Oke kembali ke operasi varikokel lagi yaa hehe line dance sebagai selingan. Langkah pertama yang kami lakukan sebelum operasi varikokel adalah kepo-kepo dokter yang pro BPJS untuk operasi varikokel dan mencari tahu bagaimana proses operasinya biar suami ga takut hehe. Akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada dr. Prahara Yuri, Sp.U(K). Ada pengalaman teman yang menyampaikan kalau beliau pro BPJS dan sayatan operasinya sangat kecil. Beliau praktik di RS JIH, RS PKU Muhammadiyah Gamping, dan RSUP Dr. Sardjito setahuku (kurang tahu sekarang tempat praktiknya masih sama atau berubah).


Tanggal 30 April 2021 kami berkunjung ke RS JIH untuk periksa ke dr. Yuri dan konsultasi terkait rencana operasi varikokel. Kami membawa hasil USG Testis dan AS bulan November 2020 lalu. Setelah diskusi panjang lebar, beliau menyampaikan bahwa sebenarnya jumlah sperma masih baik meskipun ada varikokel. Namun agar tidak terjadi keparahan lebih lanjut di kemudian hari dari varikokel, maka beliau setuju untuk dilakukan tindakan operasi varikokel. Beliau memberikan surat keterangan diagnosis agar bisa menjadi “surat sakti” untuk mengurus BPJS. Beliau menyampaikan untuk melakukan operasi di RS PKU Muhammadiyah Gamping karena di RS JIH tidak bisa menggunakan BPJS. Kamipun senang karena beliau benar-benar pro BPJS.

 

Selanjutnya tanggal 4 Mei 2021, sy ke faskes tingkat pertama (FKTP) di Puskesmas Sleman membawa surat keterangan diagnosis, hasil USG testis, kartu BPJS suami, dan KTP suami untuk meminta rujukan ke Poli Urologi RS PKU Muhammadiyah Gamping. Alhamdulillah surat rujukan bisa diurus dan sorenya langsung ke RS PKU Gamping.

 

Di Poli Urologi RS PKU Gamping suami langsung ditanya dr. Yuri tentang jadwal operasi, mau besok atau minggu depan hehe. Cukup kaget dengan kata “besok” karena kami belum persiapan apa-apa. Akhirnya kami menjadwalkan di 10 Mei 2021. Setelah itu kami diminta mengurus dokumen untuk operasi ke bagian TPRI RS PKU Gamping. Namun pihak RS belum bisa memastikan apakah tanggal 10 Mei ada kamar kelas 1 yang kosong atau tidak. Kami diminta untuk menunggu kabar via telpon dari RS.

 

Tanggal 10 Mei pun berlalu dan belum ada kabar dari RS. Tanggal 12 Mei 2021 saat lebaran pun belum juga dapat kabar sampai akhirnya 17 Mei 2021 pagi ada telpon dari RS bahwa sudah ada kamar kelas 1 yang available. Kami selanjutnya diminta membawa segala dokumen dan perlengkapan rawat inap. Oiya, pihak RS juga berpesan kalau suami wajib puasa mulai pukul jam 8 pagi ini karena operasi akan dilakukan sore itu juga sekitar jam 15.00 WIB. Jadi suami mulai puasa dan hanya boleh minum air putih saja. Pukul 09.45 di hari yang sama kami berangkat ke RS PKU Gamping. Sesampainya di RS, kami langsung ke bagian TPRI untuk mengurus ranap. Di TPRI suami mendapatkan barcode identitas pasien, kemudian suami diminta ke depan IGD untuk swab antigen. Untuk swab antigen tidak ditanggung BPJS sehingga harus membayar sendiri dan saat itu harganya masih mahal Rp 160.000,00. Setelah hasil antigen keluar, suami ke poli urologi mengumpulkan dokumen: berkas dari TPRI, hasil USG testis, dan hasil swab antigen. Selanjutnya suami diberi rujukan untuk ke Lab untuk pemeriksaan darah lengkap. Hasil pemeriksaan darah lengkap tidak perlu ditunggu. Suami kemudian ke bagian radiologi untuk rongsen dada dan hasil ditunggu. Sambil menunggu hasil rongsen dada, sy (keluarga) diminta tanda tangan informed consent ranap. Setelah hasil rongsen selesai kemudian hasil dikumpulkan kembali ke poli urologi, lalu ke bagian penetapan biaya. Setelah semua selesai, kami diantar perawat ke ruang rawat inap Wardah lantai 3.

 

Sesampainya di kamar inap, perawat menjelaskan tentang rencana tindakan operasi sore ini dan suami dipasang infus. Sekitar pukul 15.30 WIB, suami dibawa ke ruang operasi untuk tindakan. Sy hanya mengantarkan sampai depan ruang operasi sehingga tidak tahu bagaimana proses operasinya. Kalau dari cerita suami sih sesampainya di dalam kamar operasi, suami dibius epidural sehingga dia tetap sadar namun dari pinggang ke bawah bebal. Katanya sih sakit pas injeksi biusnya hehe tapi setelah itu tidak terasa apa-apa. Kemudian dipasang kateter atau selang alat bantu BAK. Proses operasi berlangsung sekitar 30 menit (cepat yaaaa). Setelah suami kembali ke ruang rawat, sy melihat di area yang diperban. Dua sisi di bagian pubis dipasang perban, artinya insisi dilakukan di 2 tempat (kanan dan kiri) karena memang varikokelnya bilateral. Suami belum boleh makan minum sebelum kaki dapat digerakkan. Akhirnya jam 20.00 WIB kaki sudah mulai bisa digerakkan dan suami bisa “buka puasa” hehe.

 

Oiya, setelah operasi tidak ada rasa nyeri yang dialami suami karena bantuan bius dan analgesik. Justru yang tidak nyaman karena terpasang kateter hehe. Setelah operasi hingga H+1 urine cenderung bercampur darah sehingga tidak perlu panik. Selanjutnya untuk mobilisasi pasca operasi juga dilakukan secara bertahap. Setelah 12 jam, mobilisasi masih di atas tempat tidur dengan menggerak-gerakkan kaki, kemudian bertahap latihan duduk, ongkang-ongkang, dan jika sudah tidak ada hambatan pergerakan dan perpindahan posisi, bisa mulai belajar berdiri dan berjalan di sekitar tempat tidur. Kalau pengalaman suami kemarin sih setelah 24 jam baru bisa berdiri dan latihan berjalan.

 

H+1 pasca operasi, dokter visit dan melakukan evaluasi ke pasien terkait keluhan yang dialami, cek warna urin, dan rembesan di area insisi. Karena semua aman, suami sudah boleh dilakukan bladder training sebelum kateter dilepas. Cara melakukan bladder training bisa googling yaa guysss (kalau penasaran). Akhirnya H+2 pasca operasi suami sudah selesai bladder training dan kateterpun dilepas. Suami diminta untuk latihan berjalan di bangsal rawat inap dan masih menunggu keputusan dari dokter apakah boleh pulang atau tidak. Akhirnya suami baru bisa pulang H+3 pasca operasi. Suami diberi beberapa obat pulang: analgesik/pereda nyeri dan antibiotik. Seluruh biaya operasi dan rawat inap benar-benar gratis karena ditanggung BPJS. Alhamdulillah kami sangat bersyukur telah dipertemukan dengan dr. Yuri yang pro BPJS dan RS PKU Gamping yang pelayanannya luar biasa. Worth it sih guys pelayanan rawat inap dengan BPJS di RS PKU Gamping. Kelas 1-nya diisi 2 orang, tapi ga masalah sih. Ada sofa panjang juga sehingga penunggu bisa tidur dengan nyaman di sofa tersebut. Ehh kok jadi malah mereview RS nya hehe. Yasudah demikian yaa guys sharing terkait operasi varikokel yang dijalani suami sy tahun 2021 lalu. Tetap semangat para pejuang garis dua!

Kembali Promil Part 3: Lanjutan Pengalaman Inseminasi Buatan di RSKIA Sadewa Jogja

Hi guys, sy lanjutkan cerita inseminasi yaa. Cerita sebelumnya baru sampai pada poin ke-6. Bagi yg belum sempat membaca bisa baca dulu di sini yaa http://bit.ly/nzpromil12

Oke lanjut…..

=======================================

7. Pemantauan folikel sel telur pasca konsumsi obat dan injeksi di hari ke-12

Oke guys setelah injeksi, sebenarnya sy mengeluhkan migraine. Namun sebelum konsumsi obat pereda migraine sy harus konsul ke RSKIA dulu. Why? Soalnya kalau sedang menjalani inseminasi tidak boleh sembarangan minum obat. Pihak RS hanya memperbolehkan sy minum paracetamol sj.

 

Di tanggal 26 Desember 2020, sy kembali menjumpai dr. Agung untuk pemantauan kondisi folikel telur, memastikan apakah obat yg kemarin dikonsumsi memberikan efek yang baik atau tidak. Sy diminta untuk berbaring dan kembali lagi diperiksa USG TransV. Hasil folikel yg besar di ovarium kanan ada 2 (ukuran 19 mm dan 16 mm) dan di ovarium kiri masih kecil (15 mm). Ukuran folikel yg diharapkan matang sebenarnya minimal 18 mm guys agar bisa dipecah. FYI, idealnya untuk inseminasi diharapkan ada 2-3 folikel yang matang.

 

Setelah dipantau ukuran folikel, dr. Agung menyampaikan agar besok pagi (27 Desember 2020), sy datang ke RSKIA untuk suntik pemecah telur dan Senin malam (28 Desember 2020) dijadwalkan untuk inseminasi. Sy kemudian diberi resep ovidrel untuk diinjeksikan besok pagi dan diberi pengantar untuk rapid antigen (rapid antigen suami istri yaaa). Total biaya yg dibayarkan hari itu Rp 1.607.000,- (sudah termasuk rapid antigen untuk dua orang). Sy juga diberi lembar jadwal injeksi dan inseminasi sebagai berikut

Gambar jadwal injeksi dan inseminasi

Sumber: Dokumentasi pribadi

=======================================

8. Injeksi pemecah folikel sel telur di hari ke-13

Sekitar pukul 8 pagi, sy bergegas ke RSKIA Sadewa untuk mendapatkan injeksi ovidrel 250 IU agar folikel sel telur pecah. Setelah diinjeksi ovidrel oleh bidan, sy diberi edukasi untuk persiapan inseminasi besok malam. Sy dan suami diminta untuk datang ke RSKIA Sadewa besok jam 18.00 WIB karena perlu preparasi sperma dahulu sebelum tindakan inseminasi dilakukan di pukul 21.00 WIB.

 

Oiya untuk injeksi ovidrel ini, teknik injeksinya sama dengan injeksi Gonal. Alat yang digunakan juga bentuknya hampir sama dengan injeksi Gonal. Saat diinjeksi rasanya gimana? Tidak kerasa apa-apa sih hehe seperti digigit semut ajaa. Lokasi injeksinya di area bawah pusar. Apabila di lokasi tersebut ada memar akibat trauma injeksi Gonal sebelumnya, maka bidan akan menginjeksikan Ovidrel di titik lain namun masih di sekitar pusar.

=======================================

9. Proses inseminasi di hari ke-14

Akhirnya tanggal 28 Desember 2020 tiba dan rasanya degdegan karena akan menjalani proses inseminasi. Proses ini diawali dengan persiapan sperma. Sekitar pukul 18.00 WIB suami diminta untuk mengeluarkan sperma di Laboratorium Andologi RSKIA Sadewa. Kemudian dilakukan preparasi sperma (washing sperma dan diambil sperma yang kualitasnya baik). Kami diminta untuk makan dahulu selama proses preparasi sperma tersebut dan diminta kembali ke RS sekitar pukul 20.00 WIB.

 

Setelah preparasi sperma selesai, kami dipanggil untuk konsultasi dengan androlog terkait hasil preparasi sperma. Hasilnya: konsentrasi sperma hasil panen 53.3 juta/ml, motil progressive 96%, volume untuk inseminasi 0.4 ml.

Gambar hasil preparasi sperma

Sumber: Dokumentasi pribadi

 

Oiya guys jadi sperma yg dipilih untuk inseminasi adl sperma yg baik yaa. Sebenarnya hasil analisa sperma suami menunjukkan ada leukosit 1.4 juta/ml. Padahal suami sudah mengkonsumsi antibiotik sebelumnya sesuai resep dokter. Tapi masih saja si leukosit ini membandel hehe. Bismillah saja, ga perlu overthinking karena kami sudah berikhtiar, apapun hasilnya kami serahkan kepada Allah.

 

Selanjutnya, sekitar pukul 20.50 WIB sy diminta masuk ke ruang tindakan. Sebelum masuk ke ruangan sy diminta untuk buang air kecil terlebih dahulu. Di dalam ruang tindakan, sy diminta untuk melepas celana dalam kemudian tiduran dalam posisi lithotomi. Saranku sih pake rok aja guys lebih nyaman ga ribet lepas-lepas celana hehe dan jangan lupa bawa kantong kresek buat naruh celana dalam yess. Oke tim inseminasipun sudah datang dan sy benar-benar degdegan, banyak berdoa semoga segala prosesnya lancar. Saat itu tim yg ada di ruangan ada dokter Agung, staf laboratorium, dan bidan. Suami tidak boleh mendekat karena kondisi pandemi sehingga perlu jaga jarak.

 

Pertama-tama dokter melakukan desinfeksi di area bibir vagina (labia) kemudian lanjut si cocor bebek besi masuk. Duh rasanya nano nano banget deh, gak sakit sih cuma tidak nyaman aja (bagi yg pernah “berteman” dengan cocor bebek can relate, hehe). Selanjutnya dilakukan pembersihan di area leher rahim (cervix), tentunya ada alat panjang yang masuk ke jalan lahir hehe. Lalu sambil dokter melakukan pembersihan, staf laboratorium mengkonfirmasi nama dan tanggal lahir sy beserta suami untuk memastikan memang pasien dan sampel sperma cocok. Hampir saja sy lupa tanggal lahir suami hehe (maklum degdegan). Sy mencoba serelaks mungkin, berkali-kali ambil nafas dalam dan terus berdoa. Selanjutnya sebuah kateter kecil dimasukkan melalui liang vagina hingga ke rahim dan sperma pun diinjeksikan dengan spuit yang terhubung dengan kateter tersebut. Rasanya gimana saat sperma diinjeksikan? Ga ada rasanya hehe, soalnya sy fokus dengan rasa tidak nyaman si cocor bebek.

 

Gambar posisi litotomi

Sumber: Google


Gambar cocor bebek/speculum

Sumber: Google

 

Gambar Prosedur Inseminasi

Sumber: Google

 

Setelah itu kateter ditarik ke luar vagina, kemudian dokter mengambil speculum. Lega rasanya saat si cocor bebek dilepas hehe. Nah saat kateter dan spekulum dilepas, sy merasa ada cairan yang mengalir keluar. Kata dokter cairan tersebut bukan sperma, dan wajar hal tersebut terjadi pasca tindakan inseminasi, sehingga tidak perlu dipikirkan. Kemudian bidan meminta sy tetap berbaring dan pantat sy diganjal bantal. Kaki posisi ditekuk istilahnya posisi dorsal recumbent (seperti gambar). Dokter meminta sy untuk tetap berbaring di posisi tersebut selama kurang lebih 20 menit. Dokter juga menyarankan untuk berhubungan suami istri esok hari selama tiga hari (maksimal tanggal 31 Desember 2020 berhubungannya), setelah itu diminta “puasa” berhubungan dulu agar tidak mengganggu proses implantasi. Sy diberi resep obat penguat kandungan microgest 100 mg yang diminum sehari 2x selama 16 hari dan asam folat folavicap 1 mg sehari 1x selama 16 hari.

 

Setelah 20 menit berlalu, sy bergegas ke toilet untuk buang air kecil dan suami membayar di kasir. Total biaya untuk hari ini Rp 3.949.000,- ditambah Rp 220.000,- biaya konsultasi androlog.

Gambar Posisi Dorsal Recumbent

Sumber: Google

 

Bidan menyampaikan agar sy melakukan tespek di hari ke-16 pasca inseminasi dan melaporkan hasilnya ke RSKIA (apapun hasilnya tetap dilaporkan). Sy juga dilarang untuk mengkonsumsi obat lain. Apabila ada keluhan pasca inseminasi, sy harus menghubungi RSKIA.

=======================================

Setelah inseminasi harus bedrest ga? Kata dokter boleh beraktivitas biasa, namun tidak boleh angkat-angkat berat dan melakukan kegiatan yang berlebihan. Manajemen stress juga penting banget tuh. Selama dua minggu menunggu sy tetap melakukan pekerjaan seperti biasa namun full WFH dan tetap nonton drakor sebagai hiburan.

 

Apa yang dirasakan selama dua minggu menunggu? Hemm, tidak ada rasa apa-apa sih guys, semua terasa biasa saja. Cuma memang sy mengurangi porsi “berpikir keras” hehehe lebih banyak berkegiatan yang happy.

=======================================

Lalu hasilnya gimana setelah dua minggu? Well, setelah dua minggu, sy belum haid. Namun sy harus menahan diri untuk melakukan tespek setelah dua hari telat saja. Sampai telat dua hari, sy beranikan diri tespek dan hasilnya negative guys. Lalu selang dua jam, darah mens keluar. Sy kemudian melaporkan hasil tespek ke RSKIA Sadewa.

 

Sedih gak insemnya belum berhasil? Ya sedih pasti guys, namun sy sudah menyiapkan hati sejak memutuskan untuk promil, jadi apapun hasilnya ya tetap disyukuri. Alhamdulillah tidak ada drama nangis hehe karena sudah manajemen hati sebelumnya.

 

Selanjutnya gimana? Mau inseminasi lagi atau bayi tabung? Hemm selanjutnya kami mau break dulu dari dunia per promil-an hehe. Biar relaks dulu ajaa, kalau suami udah agak free, kita akan memulai promil lagi. Siapa tahu nanti malah hamil alami kan. Jadi tetap jalani saja, tetap semangat ikhtiarnya, bismillah akan ada rejeki anak dari Allah di waktu yang terbaik. Sambil merayu suami untuk mempersiapkan diri operasi varikokel.

=======================================

Oke demikian guys sharing pengalaman inseminasiku. Semoga bisa memberi gambaran bagi teman-teman yang mau inseminasi yaa. Overall, prosesnya simpel dan biaya yang dikeluarkan mungkin 10% dari bayi tabung hehe. Namun untuk biaya, tergantung dari masing-masing RS yaa guys. Tidak bisa dipukul rata, jadi lebih baik survey harga dulu guys. Tidak masalah jika nanya harga via telp ke RS yang akan dituju karena persiapan “dana” untuk promil tuh penting banget. Total biaya 1 siklus inseminasi di RSKIA Sadewa Desember 2020 adalah Rp 9.562.000,-. Total biaya ini bisa berbeda-beda untuk masing-masing pasangan yaa guys. Karena tergantung kondisi dari masing-masing pasangan.


Gambar Rincian Biaya Inseminasi Des 2020

Sumber: Pengalaman pribadi

 

Semoga teman-teman yang sedang menanti rezeki anak sepertiku selalu diberi kemudahan dan terus semangat yaaa! Semoga segera datang rezeki anak untuk kita semua. Aamiin.

 

Kembali Promil Part 2: Pengalaman Inseminasi Buatan di RSKIA Sadewa Jogja

Hi all. Di artikel “kembali promil part 1” kemarin, sy menjanjikan untuk menuliskan pengalaman inseminasi secara terpisah. Bagi yang bertanya-tanya “kok udah inseminasi sih mbak? Kenapa gak promil alami dulu?”, kalian perlu baca dulu kisah promilku sebelumnya yaa (ada 10 part dari bit.ly/nzpromil1)hehe. Lalu apa alasan yang mendasari kami kok mantap untuk inseminasi sih, kisahnya ada di cerita “Kembali Promil Part 1” yaa (http://bit.ly/nzpromil11).

 

Oiya, disclaimer dulu: Tulisan ini murni adalah pengalaman pribadi sy. Apabila sy menuliskan obat-obat yg didapatkan selama program, seluruh obat tsb atas RESEP DOKTER. Jadi jangan coba-coba membeli obat tsb secara bebas yaa karena kondisi masing-masing pasangan berbeda-beda. 


Yap, akhirnya setelah konsultasi hasil USG Testis ke androlog RSKIA Sadewa (dr. Seso) di 21 November 2020, sy melakukan reservasi inseminasi dg dr. Agung. Sy reservasi dulu sesuai dengan prediksi mens hari ke-2 di bulan Desember (16 Des 2020). Sebelum menjelang mens siklus Desember, sy sempatkan untuk kepo-kepo tentang pengalaman inseminasi dari orang-orang melalui blog maupun youtube. Sy juga mencoba menambah wawasan sy tentang proses inseminasi itu sendiri di beberapa artikel ilmiah dan video di youtube agar sy punya gambaran.

 

Dari pengalaman orang-orang, ada yang berhasil setelah 1x siklus inseminasi, namun ada pula yang gagal bahkan setelah 4x siklus inseminasi. Oleh karena itu, penting banget yaa teman-teman untuk menyiapkan hati. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, namun kembali lagi Allah yg menentukan. Apabila teman-teman sudah mantap memutuskan program hamil, maka harus siap dengan segala hasilnya, entah berhasil atau masih belum beruntung.

 

Oiya sebelum memulai promil inseminasi ini, sy juga meminta izin ke manajemen kantor karena tentu saja jika sy akan menjalani inseminasi, sy juga perlu memanajemen stress, hehehe. Alhamdulillah banget manajemen kantor maupun tim peneliti, orangnya baik-baik banget. Sy izin untuk WFH full selama satu bulan dan sedikit mengurangi porsi pekerjaan.

=======================================

Tanggal 15 Desember 2020 tiba dan haid sy pun datang sehingga pas banget nih 16 Desember 2020 sy haid hari ke-2 dan sudah reservasi di bulan sebelumnya. Sy juga lega karena dapat antrian nomor 2, jadi tidak perlu antre lama hehe.

 

Saat bertemu dg dr. Agung Dewanto, SpOG KFER, PhD, sy langsung menyampaikan untuk inseminasi. Karena sebelumnya sy sudah promil lama dg beliau, maka tidak perlu pemeriksaan tambahan. Yang penting bawa hasil analisa sperma terbaru dan hasil HSG yg dulu pernah sy lakukan.

 

Serangkaian proses inseminasi sbb:

1. Edukasi kesehatan

dr. Agung menjelaskan kepada kami tentang proses inseminasi dan peluang keberhasilannya. Proses inseminasi dijelaskan dengan media bantu mini replika alat reproduksi wanita sehingga mempermudah kami untuk memahaminya. Pada intinya inseminasi ini merupakan prosedur medis yang dilakukan untuk memperpendek perjalanan sperma menuju ke saluran tuba (tempat pembuahan) sehingga meningkatkan peluang terjadinya pembuahan.

 

Bedanya dengan bayi tabung apa? Kalau bayi tabung, proses pertemuan sel telur dan sel sperma dilakukan di luar tubuh, yaitu di sebuah cawan/preparat medis. Sehingga pembuahan terjadi di luar dan yang ditransfer ke dalam rahim adalah embrio. Sementara itu kalau inseminasi, pertemuan sel telur dan sel sperma terjadi di dalam organ reproduksi wanita (tuba falopi/saluran tuba) dan yang ditransfer ke dalam rahim dengan menggunakan kateter kecil adalah sperma yang fresh setelah dilakukan pencucian (preparasi sperma) dan pemilihan sperma dg kualitas yang baik. Misal teman-teman masih bingung, bisa googling yaaa proses inseminasi dan banyak juga videonya hehe.

 

Peluang keberhasilannya memang terbilang kecil 10-20% saja tergantung dari kondisi masing-masing pasangan. Semakin sering melakukan siklus inseminasi, maka peluangnya semakin besar.


2. Pemeriksaan awal folikel sel telur di mens hari ke-2

Oke, lanjut, setelah diberi penjelasan, sy diminta berbaring untuk dilakukan pemeriksaan dengan USG TransV. Lama banget deh enggak ketemu sama “golok” ini hehe. Dokter memantau jumlah folikel sel telur yg ada di ovarium kanan dan kiri. Sy agak lupa jumlahnya berapa kalau ga salah ingat kanan 5 dan kiri 7. Nah folikel ini nantinya akan dibantu “dibesarkan” dengan obat untuk mencapai ukuran tertentu agar bisa dipecahkan satu hari sebelum proses inseminasi dilakukan.


Gambar transducer USG Trans V

Sumber: google


3. Pemberian resep obat pembesar folikel telur diminum saat mens hari ke-2 sampai hari ke-6

Setelah pemeriksaan USG Trans V, dokter memberikan resep obat pembesar folikel telur berupa tablet “Femaplex” 2.5 mg sebanyak 10 tablet. Obat ini mulai diminum di mens hari ke-2 pukul 21.00 WIB. Sehari hanya 1x minum obat saja namun sekali minum langsung 2 tablet. Obat ini diminum selama 5 hari (tanggal 16-20 Des 2020). Oiya untuk mempermudah jadwal-jadwal obat, sy diberikan lembar jadwal program inseminasi seperti pada gambar berikut

Gambar Flow chat jadwal inseminasi buatan

Sumber: Dokumentasi pribadi

 

4. Rapid test suami istri sebelum menebus obat

Well, karena pandemi COVID-19, semua pasien yang akan inseminasi, wajib untuk melakukan rapid test antibodi (saat itu belum tersedia rapid antigen di RS tsb). Oiya karena inseminasi ini dilakukan oleh suami dan istri, maka keduanya wajib rapid test. Jadi siap-siap biaya tambahan untuk rapid yaa guysss. Kami berdua rapid di laboratorium RSKIA Sadewa biar sekalian ajaa. Setelah selesai rapid baru bisa menebus obatnya. Sy diperbolehkan minum obat mulai malam ini walau hasil rapid belum keluar. Rapid tes yang kami jalani adalah rapid test yang kuantitatif guys jadi hasilnya ga bisa langsung gitu. Misal hasil rapid reaktif, maka kami ga bisa lanjut ke step berikutnya. Jadi hanya sampai step minum tablet pembesar folikel saja. Jika hasil rapid test non reaktif, maka kami bisa lanjut ke tahap berikutnya.

 

Oiya, sebelum meninggalkan RS, bidan menyampaikan jika hasil rapid test kami non reaktif, maka di tanggal 21 Des 2020 sy harus ke RS lagi untuk mulai injeksi pembesar folikel. Dokter sudah memberi resep untuk menebus obat injeksi ini di hari H injeksi. Pembayaran obat injeksi bisa dilakukan saat hari H injeksi. Biaya total untuk pertemuan pertama Rp 968.000,-.

=======================================


5. Minum obat pembesar folikel selama 5 hari

Guys jadi malam hari setelah periksa, sy langsung minum obat pembesar folikelnya. Suami juga minum antibiotik guys Chloramphenicol 500mg sehari 4x, hehe. Karena sediaan obatnya 250mg, sekali minum langsung 2 kaplet guys hihi. Suami minum antibiotic ini karena ada riwayat leukositosis di hasil analisa spermanya guys. Jd harapannya saat pengambilan sperma di hari H inseminasi, bisa terhindar dari si leukosit. Tapi kembali sy sampaikan bahwa semua obat ini harus dengan RESEP DOKTER yaa guys.

 

Selama 5 hari sy minum obat pembesar folikel, tidak ada efek samping apa-apa sih guys. Sy juga dapat info kalau hasil rapid test kami non reaktif, alhamdulillah. Oiya setelah menstruasi selesai, tetap boleh berhubungan suami istri yaaa guys. Tidak ada larangan. Nah karena sy orangnya tuh suka penasaran, sy sempat kepo juga tentang pilihan obat pembesar folikel. Kenapa sy diberi yang Femaplex, kok bukan Dipthen. Jawabannya terlalu medis, jadi silakan yg tertarik bisa baca artikel ilmiah berikut yaaa. Bagi yang bingung, ga usah baca gapapa, tidak mempengaruhi esensi apa-apa kok hehe.

Link journal article: 10.1097/MD.0000000000021006

=======================================


6. Injeksi pembesar folikel sel telur di hari ke-7 sampai hari ke-9

Setelah 5 tablet pembesar folikel habis, pagi harinya tanggal 21 Desember 2020 bergegas ke RSKIA Sadewa kembali. Sy membawa resep dokter dan lembar kegiatan inseminasi yang diberikan saat periksa dg dr. Agung tanggal 16 Desember lalu. Sampai di RS sekitar pukul 08.00 WIB, pagi banget guys dan sepi banget hehe. Setelah obat dipersiapkan, sy diminta untuk ke ruang tindakan. Sy diminta berbaring dan obat siap disuntikkan ke area bawah pusar dengan sudut suntikan 90 derajat. Kalau istilah medisnya, pemberian obat melalui subcutan biasanya agak dicubit sedikit saat menyuntikkannya. Oiya obat injeksinya namanya GONAL F dosis 100 IU per injeksinya. Rasanya agak panas guys saat obat mulai disuntikkan. Oiya jangan bayangkan pakai jarum yang panjang yaa. Ini obatnya dikemas sedemikian rupa sehingga jarumnya pendek seperti gambar berikut (sy ambilkan gambar dari google karena saat hari H tidak sempat mengambil gambar).

Gambar alat injeksi Gonal

Sumber: Google


Well, cepet banget proses injeksi ini. Setelah itu, sy membayar obat untuk 3x injeksi. Sebenernya boleh sih misal mau dibayar per injeksi, namun bagiku ribet harus setiap hari bayar hehe. Bidan menawarkan untuk membawa obatnya dan sy bisa suntik sendiri di rumah. Namun sy memilih untuk suntik di RS saja karena khawatir kalau sy bawa obatnya pakai motor nanti kena panas dan lain lain bisa merusak obat. Maklum rumah sy ke RSKIA Sadewa jauh guys bisa 30-45 menit perjalanan. Sy awalnya sudah beli cool-box namun karena belinya online, barangnya belum sampai saat dibutuhkan hehe.  Jadi yasudah sy mending suntik ke RS aja, toh hanya 3x. Setiap pagi sy suntik ke RS dari tanggal 21-23 Des 2020. Total biaya injeksi Rp 2.818.000,-.

=======================================


Guys, agar tidak kepanjangan, cerita lanjutannya ada di Part 3 yaaa. Rincian total biaya inseminasi juga sy cantumkan di Part 3. Terima kasih sudah membaca.


To be continued....

Kembali Promil Part 1: USG Testis ulang

 Hi guys, sudah lama tidak mengupdate blog nih. Sy mau melanjutkan kembali cerita promil setelah terminasi kehamilanku di bulan Juli 2020 lalu. Bagi yg belum baca cerita promilku sebelumnya, silakan dibaca dulu yaaa.


Oke, cerita dimulai dari tanggal 26 Agustus 2020, sy kembali menjumpai dr. Irwan di RSKIA Rachmi. Saat itu sy hanya konsultasi sih tentang apa saja yang perlu sy persiapkan untuk promil berikutnya. Perlu tes TORCH ga, atau tes yg lain agar hygroma colli tidak terulang. dr. Irwan menyampaikan bahwa sy tidak perlu melakukan tes TORCH maupun tes yg lain karena kondisi hygroma colli ini tidak berkaitan dengan infeksi. Dokter juga menyampaikan sy bisa memulai promil lagi di bulan Oktober 2020 dan kejadian hygroma colli sangat kecil kemungkinannya untuk berulang. Sy cukup lega mendengar hal tersebut. Sy diberi resep asam folat 1 mg (total 60 tablet untuk dua bulan) yang diminum saat hari pertama mens di bulan September 2020. Dokter juga memberi resep vitamin untuk suami yg diminum saat hari pertama mens sy di bulan Oktober 2020 (total 30 tablet untuk satu bulan). Oiya, dr. Irwan juga menyampaikan nih, jika nantinya telat haid, lebih baik test pack-nya setelah seminggu telat. Jika test pack positif, tidak perlu buru-buru ke SpOG, tunggu saja seminggu kemudian. Total biaya konsultasi dan vitamin Rp 291.500,-.


Bulan Oktober 2020 pun tiba, sy dan suami semangat untuk promil kembali. Kami kembali berkonsultasi dengan dr. Agung baiknya harus seperti apa. Dokter menyampaikan bahwa suami perlu menyelesaikan problemnya dulu ke androlog (dr. Seso). Akhirnya tanggal 24 Oktober 2020, suami kembali melakukan analisa sperma (AS) di RSKIA Sadewa agar saat konsultasi dengan dr. Seso kami sudah membawa hasil AS. Total biaya AS dan pendaftaran Rp 160.000,-.


Setelah AS, kami langsung reservasi untuk konsultasi hasil AS dengan dr. Seso. Ternyata sekarang dr. Seso semakin banyak pasien nih, kami baru bisa periksa di 4 November 2020. Akhirnya pada tanggal tsb, kami menemui dr. Seso di RSKIA Sadewa dengan membawa hasil AS. Kali ini angka leukosit sudah normal 0.8x106 ml. Namun morfologi normal hanya 1%, kesimpulannya masih Teratozoospermia (berdasarkan Persandi 2015). dr. Seso menyampaikan bahwa suami perlu melakukan USG Testis ulang karena hasil AS yg selalu teratozoospermia sejak tahun lalu hehehe. Beliau juga menyampaikan jika hasil USG testis ditemukan gambaran varikokel, suami disarankan untuk operasi. Suami diberi rujukan untuk USG testis di Pramita dengan dr. Amri, Sp.Rad. Total biaya konsultasi androlog dan pendaftaran Rp 190.000,-.


Pagi harinya, sy mencoba mendaftarkan suami ke Pramita untuk USG testis dan mendapat antrian di tanggal 10 November 2020 malam dengan dr. Amri, Sp.Rad. Guys, FYI kalau mau USG testis recommended di Pramita deh bagi yg domisili Jogja. Tapi memang harus reservasi dulu. Kenapa recommended? Kalau kata suami sih alatnya lebih baru, dokternya detail meriksa dan menjelaskannya, dan hasil USG nya tampak jelas dibandingkan dg Lab yg sebelumnya suami melakukan USG testis. Di hari USG testis, sy tidak bisa menemani suami karena sy harus isolasi mandiri (menunggu hasil Swab PCR alhamdulillah negatif). Kata suami sih proses USG-nya cepat dan dokternya menjelaskan gambaran USG dengan detail. Pada intinya, terdapat varikokel bilateral grade 3 dan tampak hydrocele di bagian kanan (bisa googling ya guys tentang varikokel dan hydrocele). Dokter menyampaikan bahwa perlunya operasi kecil untuk mengatasi hal tsb. Namun disarankan konsultasi kembali ke androlog untuk rujukan operasinya. Total biaya USG Testis Rp 1.152.000,-.


Setelah mengetahui ada varikokel bilateral grade 3, sy dan suami berdiskusi langkah selanjutnya. Kami tetap ingin ambil opsi operasi, namun pemulihan pasca operasi memerlukan waktu yg cukup lama (3-6 bulan). Akhirnya kami berpikir untuk mencoba inseminasi dahulu dengan success rate yg lebih rendah dari operasi varikokel. Misalnyapun inseminasi berhasil, kami tetap akan memikirkan untuk operasi varikokel untuk jangka panjangnya. Tapi kami sepakat untuk ambil inseminasi dulu saja.


Tanggal 21 November 2020 kami kembali konsultasi ke dr. Seso di RSKIA Sadewa. Beliau menjelaskan hasil USG testisnya. Dugaan varikokel terkonfirmasi dengan hasil USG tersebut. Dokter kemudian memberikan opsi operasi atau mau mencoba inseminasi. Setelah diskusi panjang sebelum bertemu dr. Seso, kami dengan mantap menyampaikan untuk mencoba inseminasi. Dokter menyambut baik keputusan kami. Apapun hasilnya, kami berpasrah pada Allah. dr. Seso selanjutnya memberikan rujukan inseminasi ke dr. Agung. Sy diminta untuk datang periksa ke dr. Agung saat mens hari ke-2 di siklus bulan Desember 2020. Suami diberi resep obat dipthen 50mg yang diminum setiap dua hari sekali. Dipthen diminum sejak tanggal 21 November 2020 sampai proses inseminasi tiba (obat ini harus dengan resep dokter yaa guys. Jangan coba-coba membelinya secara bebas, karena kondisi masing-masing orang berbeda). Selain itu, untuk mencegah kenaikan leukosit di sperma, dr. Seso juga memberi resep ke suami antibiotic Chloramphenicol 500mg diminum sehari 4x. Antibiotik ini diminum suami mulai dari hari ke-2 mens sy sampai habis (mendekati proses inseminasi). Oiya, karena sediaan Chloram saat itu hanya ada yg 250mg, suami harus minum total 8 tablet per hari, hehe. Total biaya konsultasi androlog, pendaftaran, dan obat Rp 610.000,-.


Total biaya keseluruhan dari promil kembali sampai sebelum inseminasi adalah Rp 2.403.500,-. Cerita tentang inseminasi akan sy bahas secara terpisah yaa guys. Terima kasih sudah membaca blog sy. Semoga yg sedang berikhtiar untuk mendapatkan keturunan, dipermudah dan diridhoi Allah. Aamiin.

PENGALAMAN PROMIL PART 10: TERAPI MASALAH SPERMA


Lanjut yaa gaes. Setelah kami berhasil menebus chloramphenicol sebanyak 112 kapsul, suamipun mulai rutin meminum obat tsb. Suka duka dilalui sepanjang 2 minggu terapi antibiotik. Pastinya kepatuhan minum obat memang tidak semudah itu ferguso. Apalagi tipe suami sy nih susah banget harus mengingat jadwal minum obat. Jadi sy harus jadi alarm minum obatnya 😌.

Belum lagi, kami sempat ada agenda ke Barcelona, Spanyol karena suami harus menghadiri International Conference. Jadwal minum obatpun menjadi drama karena kami lupa menanyakan terkait jadwal minum obat dg perbedaan waktu Jogja dg Barcelona. Yasudah suami tetap minum obat dg jadwal jam Indonesia.

Kami juga membeli condom sesuai dg arahan dokter androlog. Beli condom di apotik rasanya malu banget, soalnya petugas apotik pasti lihat wajah pembeli 😂. Tapi pada kenyataannya, condom yg sudah terbeli tidak jadi terpakai gaes (kelupaan aja, gak inget).

Oiya gaes kelupaan, selain antibiotik 2 minggu, suami juga diresepi oleh dr. Seso suplemen untuk membantu memperbaiki kondisi leukositosis, namanya Profilas. Suplemen ini bisa diminum suami hingga kondisi leukositnya pulih. Saat itu suami diresepi profilas untuk 1 bulan alias 30 tablet. Kami menebusnya di Apotik Kimia Farma dan harganya amazing gaes, 30 tablet sekitar Rp 400.000,-. Jadi sehari minum 1 tablet.

Setelah terapi antibiotik selama 2 minggu selesai, suami menunggu beberapa waktu dan melakukan analisa sperma (AS) ulang di tanggal 1 Oktober 2019. Biaya AS di RSKIA Sadewa Rp 148.000,-. Kemudian kami konsultasi hasil AS ke dr. Seso beberapa hari kemudian. Hasil AS nya membuat hati kami ambyar gaes.

1. Alhamdulillah sel leukosit berkurang dari 1.7 juta/ml menjadi 1.0 juta/ml. Artinya masih dalam batas normal tapi batas maksimal banget.

2. Morfologi atau persentase bentuk normal sperma masih stuck di 2%, jadi masih teratozoospermia.

3. Aglutinasi positif dong. Positifnya ada 3 pula +++ (mixed). Agregasi positif. Normalnya, aglutinasi dan agregasi negatif. So, artinya apa sih aglutinasi dan agregasi? Teman-teman bisa googling yaa untuk informasi detailnya. Dalam bahasa gampangnya, aglutinasi ini kondisi dimana sperma yg hidup (lincah) saling menempel, jadi menggerombol dan tidak bisa lari menuju ke ovum untuk membuahi. Nah kalo positifnya 3, artinya sudah grade 3, lebih dari 50% sperma yg hidup/yg sehat pada saling menempel. Lalu agregasi ini apa? Agregasi adalah kondisi dimana sperma yg kurang oke atau sperma yg mati saling menempel. Jadi bisa dibayangkan gaes kl sperma saling nempel trus gmn mau nembus ovum 🤔. Jadi hati kamipun ambyar.

dr. Seso tetap menyemangati kami dan kembali meneruskan terapi antibiotik chloramphenicol selama 2 minggu lagi dan meneruskan minum profilas. dr. Seso meresepkan profilas langsung untuk 2 bulan. Suami sudah pucat mendengarnya, karena selama minum antibiotik, respon badan jadi mudah capek gitu, linu-linu juga. Tapi yasudah suami tetap berkomitmen untuk meneruskan terapi. Kali ini kami menebus antibiotik di RSKIA Sadewa 112 kapsul lagi, hehe. Again, setelah terapi selesai, suami diminta untuk AS ulang.

Biaya periksa di RSKIA Sadewa
Pendaftaran Rp 8.000,-
Konsultasi dan periksa Sp.And Rp 120.000,-
Jasa sarana dan prasarana Rp 50.000,-
Obat antibiotik 112 kapsul Rp 112.000,-
Harga profilas di Apotik Kimia Farma 60 tablet sekitar Rp 860.000,-.

*****

Setelah 2 minggu, suami kembali AS pada tanggal 3 Desember 2019. Seperti biasa, biaya AS di RSKIA Sadewa masih sama Rp 148.000,-. Beberapa hari kemudian, kami kembali konsultasi hasil AS dg dr. Seso. Hasil konsultasi:

1. Konsentrasi sperma hanya 18.7 juta/ml dan morfologi yg normal hanya 1% gaes. Kalau menurut PERSANDI 2015 kesimpulannya oligo-teratozoospermia.

2. Alhamdulillah sel leukosit semakin menurun dari 1.0 juta/ml menjadi 0.8 juta/ml. Aglutinasi dan agregasi negatif. Akhirnya setelah perjuangan 1 bulan terapi antibiotik 😂.

3. Melihat hasil konsentrasi sperma yg semakin fluktuatif, dr. Seso memberikan pilihan kepada suami untuk operasi varikokel atau langsung inseminasi. Beliau memberi gambaran juga terkait biaya dan tingkat keberhasilan. Untuk biaya, kedua opsi tersebut hampir sama yaitu sekitar 5jutaan. Tingkat keberhasilan inseminasi sekitar 10-20%an. Namun jika suami bersedia operasi varikokel, setelah pemulihan, insyaAlloh tingkat keberhasilan untuk menghasilkan kehamilan sekitar 30% (seperti IVF/Bayi tabung). Sy dan suami diminta untuk memikirkan kembali mana yg akan dipilih. Biaya periksa ke dr. Seso seperti biasa, total Rp 178.000,-.

*****
Selepas konsultasi dg dr. Seso, sy dan suamipun berdiskusi dan mantep untuk langkah operasi varikokel saja. Why? Menurut kami, lebih worth it untuk mengatasi ”dasarnya” dulu agar bisa lebih awet jika digunakan kembali ke depannya, hehe.

Tanggal 8 Januari 2020, kami kembali konsultasi ke dr. Seso dan menyampaikan keputusan kami untuk operasi varikokel. Kemudian suami mendapat rujukan USG Testis ke Lab. Hasil dari USG Testis ini dapat menjadi dasar untuk operasi varikokel. Selain itu, suami juga diberi rujukan untuk melakukan pemeriksaan hormon testosteron dan FSH. Biaya periksa ke dr. Seso seperti biasa, total Rp 178.000,-.

*****

Sehari kemudian, suami melakukan USG Testis di HiLab Jogja. Biayanya Rp 475.000,-. FYI biaya USG Testis beda-beda yaa gaes di setiap Lab nya. Sebenarnya pengen USG Testis ke Lab Pramita, tapi jadwal dokternya kurang match. USG Testis dilakukan oleh dokter spesialis radiologi. Karena sy tidak ikut suami saat USG Testis, sy ga bisa cerita yaa gaes seperti apa prosesnya. Tapi kata suami sih intinya disuruh lepas celana dalam terus alat USG diletakkan di sekitaran area kelamin. Suami juga diminta untuk mengejan juga dan beberapa arahan lainnya (suami lupaa katanya 😌). Lalu untuk tes hormonnya dilakukan di HiLab Jogja juga dg pengambilan sampel darah vena. Biayanya Rp 375.000,- untuk testosteron dan Rp 325.000,- untuk FSH. FYI gaes, HiLab tuh menurutku Lab paling affordable dari segi harga yaa. Tapi jangan terlena dg harga yaa gaes 😂. Yg penting kualitas.

Tanggal 15 Januari 2020 kami kembali konsultasi hasil USG Testis dan hormon ke dr. Seso.

1. Hasil USG Testis menunjukkan varikokel subklinis gaes. Tapi di lembar penjelasan hasil dari Lab menunjukkan semua dalam batas normal. Padahal dari rabaan ajaa ada ”cacing-cacing” nya gaes. Jadi yaudah hasil USG Testis ini tdk bisa menjadi dasar kuat untuk operasi varikokel. Oiya varikokel ini ada grade nya yaa gaes untuk dasar operasi. Bisa googling yaak untuk lebih lengkapnya. Intinya kami tidak bisa memilih opsi untuk operasi varikokel, huhu. Padahal suami sudah menyiapkan mental gaes. Tapi yasudah.

2. Hasil tes hormon FSH menunjukkan 3.25 mIU/mL. Rentang nilai yang baik untuk hormon FSH sebenarnya 7-11 gaes. Jadi FSH suami termasuk rendah. Kemudian hormon testosteron hanya 2.49 mIU/mL, rentang yang baik antara 6-8, jadi testosteron juga rendah gaes.

3. Kemudian dr. Seso memberikan terapi hormon untuk meningkatkan hormon testosteron. Suami diresepi dipthen selama 7 hari. Sehari minum 1 tablet. Setelah terapi hormon selesai, suami diminta untuk tes hormon testosteron kembali.

Biaya periksa di RSKIA
Konsultasi dg dr. Seso seperti biasa Rp 178.000,-
Dipthen 7 tablet Rp 112.000,-

*****

Tanggal 29 Januari 2020, suami kembali tes hormon testosteron di HiLab Jogja dg biaya Rp 375.000,-. Dan sore itu juga kami langsung konsultasikan ke dr. Seso. Hasil konsultasi dg dr. Seso:

1. Hasil hormon testosteron sudah naik menjadi 6.29 mIU/mL. Artinya terapi hormon ini memiliki respon positif ke hormon suami.

2. dr. Seso memberikan resep obat dipthen lagi untuk 3 minggu dan suami diminta melanjutkan minum profilas. Setelah terapi hormon, suami diminta untuk AS ulang, baru kami bisa lanjut ke tahap inseminasi.

Biaya periksa di RSKIA
Konsultasi dg dr. Seso seperti biasa Rp 178.000,-
Dipthen 21 tablet Rp 332.000,-

*****

Gaes ini sy cantumkan biayanya biar bisa jadi dasar estimasi yaak bagi yg mau promil hehe. Totalnya berapa, bisa dikalkulasikan dari part 1 cerita promil sy.

Sekian gaes series cerita tentang perjalanan promil. Maafkan ada 10 part. Setelah suami selesai minum dipthen, belum sempat AS ulang gaes karena corona keburu menghampiri. Padahal rencananya akhir Maret 2020 mau inseminasi.

Tapi memang perjalanan promil tuh butuh komitmen bersama, kesabaran, dan keikhlasan gaes. Ikhtiar pokoknya yaa. Gak ada sesuatu yg instan kecuali mie instan yg bisa diseduh pake air panas 😂. Terima kasih bagi para pembaca yang setia mengikuti kisah ini. Bagi teman-teman yang sedang berjuang mendapat momongan, tetap semangat yaaa! Gak usah dengerin omongan yg negatif atau membuat hati menjadi sedih. Bagi teman-teman yg LDM juga tetap semangat, insyaAlloh semua akan indah pada waktunya. Alloh Maha Mengetahui dan Maha segalanya gaes, pasti akan diberikan sesuatu yang indah di waktu yang indah juga. Punya anak bukan perlombaan kok buat cepet cepetan. Sama halnya kyk nikah juga bukan perlombaan. Semua akan ada waktunya 🤗

PENGALAMAN PROMIL PART 9: KULTUR SPERMA


Setelah suami diberi rujukan untuk kultur sperma, tanggal 20 Agustus 2019 sy mengantar suami ke Lab Prodia Jalan Mangkubumi Yogyakarta. Kami ke sana sekitar jam 19.00 WIB. Namun sayang sekali ”tidak bisa keluar”, jadi yasudah kami diminta membawa pulang wadah sampel dan sampel dikirim ke Lab besok pagi.

Keesokan paginya suami sekitar jam 6 pagi ke Lab Prodia kembali untuk memberikan sampel. Hasil kultur sperma baru bisa keluar sekitar 1 minggu. Biaya kultur sperma ini sekitar Rp 500.000,- sampai Rp 700.000,-, sy lupa karena notanya hilang 😅. Untuk persyaratan kultur sperma akan dijelaskan oleh dokter androlog nya yaak (kami sudah lupa karena sudah lama juga 😅).

Tanggal 27 Agustus 2019 hasil kultur spermapun sudah keluar. Namun kami baru sempat konsul ke dr. Seso tanggal 2 September 2019 karena kesibukan kami. Penjelasan dari dr. Seso terkait hasil kultur sperma sbb:

-Hasil kultur sperma menunjukkan adanya bakteri Staphylococcus epidermidis (untuk lebih detail ttg bakteri tsb bisa googling yaa).

-Uji kepekaan terhadap 22 Jenis antibiotik, ternyata suami sy resisten pada hampir 80% dari seluruh antibiotik tsb. Artinya terapi yg sebelumnya dg Levofloxacin untuk mengatasi leukositosispun tidak mempan karena resisten.

-Antibiotik yg masih sensitif untuk suami hanya terbatas pada Amikacin, Chloramphenicol, Gentamycin, Linezolid, dan Tobramycin.

-Karena alasan sediaan antibiotik dan harga, dr. Seso meresepkan suami antibiotik chloramphenicol untuk mengatasi bakteri yang mungkin menyebabkan leukositosis.

-Suami diterapi dengan chloramphenicol selama 14 hari dengan dosis 2 gram per harinya. Sediaan chloramphenicol ini biasanya 500 mg. Sehingga suami harus minum antibiotik sehari 4 kapsul.

-Selama mengkonsumsi chloramphenicol, kami disarankan untuk menggunakan kondom jika akan berhubungan seksual. Why? Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi adanya infeksi silang tambahan. Selain itu, membiarkan chloramphenicol memberikan hasil kerjanya tanpa ada gangguan dari kemungkinan paparan bakteri lain dari hasil hubungan seksual.

-Konsumsi antibiotik ini harus ditaati agar tidak terjadi resisten obat. Sehingga wajib memasang alarm dan membawa antibiotik kemanapun pergi.

-Jika antibiotik habis, suami diminta untuk analisa sperma ulang setelah satu minggu dari hari terakhir mengkonsumsi antibiotik.

Kami menghela nafas panjang karena masih terkejut dg hasil uji kepekaan antibiotik. Serem juga kl banyak resisten dg antibiotik. Terus membayangkan yang enggak-enggak (kalo misal nanti terjadi apa-apa, tp semua antibiotik resisten terus gimana, dll).

Selanjutnya dr. Seso mengkaji suami terkait riwayat penggunaan antibiotik karena hasil Lab tsb. Tapi suami menyampaikan bahwa Ybs terakhir menggunakan antibiotik saat masih kecil dan waktu itu tidak ingat minum antibiotik apa dan apakah dihabiskan atau tidak. Sulit deh kalo mau diinget-inget. Kemudian dr. Seso juga menanyakan ttg kegiatan sehari-hari suami untuk memastikan kemungkinan ”ketaatan” minum antibiotik 😁.

Eh entah gimana awalnya, kami malah ngobrol-ngobrol tentang riwayat pendidikan S2 yang dibiayai oleh beasiswa LPDP. Ternyata dr. Seso awardee LPDP juga untuk Spesialisnya (malah berasa reunian awardee LPDP lintas angkatan 😅). Setelah pertemuan kedua ini kami semakin nyaman periksa dg dr. Seso. Selain beliau masih muda, pinter, scientific (soalnya kalo jelasin pasti sumbernya jurnal 😊), beliau juga asyik dan luwes kalo ngobrol dg pasien. Recommended deh dr. Seso ini.

Biaya periksa di RSKIA Sadewa
Pendaftaran Rp 8.000,-
Konsultasi dan periksa Sp.And Rp 120.000,-
Jasa sarana dan prasarana Rp 50.000,-


Sepulang dari periksa, kami langsung mencari apotik untuk menebus chloramphenicol. Tadi mau nebus di RSKIA Sadewa, tapi hanya ada sediaan 250 mg. Kalau membeli yg sediaan 250 mg, maka sekali minum harus 2 kapsul. Berarti akumulasi per hari minum 8 kapsul antibiotik selama 14 hari. Mabok ga sih bayanginnya. Untungnya yg minum antibiotik suami aja yaa, sy ga perlu minum 😁😅.

Kami menelusuri beberapa apotik besar namun tidak ada satupun yg menjual antibiotik tsb (out of stock. heran deh, kok bisa yaa 🤔). Dan yg paling sebel kalau ada petugas apotik yg kepo dg wajah sinis ”emang ini sakit apa sih kok beli antibiotik banyak sekali”. Kami tidak menjawab dan memilih untuk tersenyum dan pergi saja.

Hampir 1 minggu kami belum mendapatkan chloramphenicol 🤣. Yaa pusing juga ternyata, nyari antibiotik sesusah itu yaak. Lalu akhirnya menemukannya di apotik kecil depan Puskesmas Mlati II. Waktu itu tidak sengaja lewat dan iseng nanya, ternyata ada chloramphenicol.

Sy pun memberikan resep dari dokter dan mereka mengkonfirmasi ulang ”maaf mbak, ini memerlukan 56 kapsul chloramphenicol 500 mg?”. Sy pun tersenyum dan menjawab ”iya mbak, soalnya untuk terapi”. Petugas apotik menyampaikan bahwa sediaan chloramphenicolnya 250 mg, apakah tidak masalah? Sy dan suami mengiyakan saja karena daripada gak dapet antibiotik. Akhirnya sekitar 3 petugas apotik menyiapkan chloramphenicol kemasan 250 mg sebanyak 112 kapsul 😅. Sumpah banyak banget emang. Berasa kita ngeborong semua chloramphenicol yg ada di apotik tsb.

Alhamdulillah petugas di apotik tsb ramah-ramah dan tidak kepoan 😅. Pengemasannya pun rapi dan mereka menjelaskan aturan minumnya. Tak lupa mereka memberikan doa agar cepat sembuh. Oiya total harga 112 kapsul Chloramphenicol sekitar Rp 90.000,- sampai dengan Rp 110.000,- (kami agak lupa harga pastinya. Yg jelas ini adalah antibiotik yg murah).


To be continued....


Gambar hasil kultur sperma
Sumber: dokumentasi pribadi

Gambar hasil kultur sperma uji kepekaan
Sumber: dokumentasi pribadi


PENGALAMAN PROMIL PART 8: PERIKSA KE ANDROLOG


Pada part ini sy akan mulai menceritakan tentang promil pada suami sy. Sebagaimana yg sy sampaikan di part sebelumnya bahwa promil dilakukan oleh kedua belah pihak. Bukan hanya pihak wanita sj karena kehamilan dapat terjadi atas kerja sama dua belah pihak yaa 😂. Kalau istri belum hamil, mohon maaf para tetangga yg suka berisik, belum berhasilnya suatu kehamilan bukanlah semata-mata karena ada masalah pada wanita saja (mohon dicatat nggih 😎). Kehamilan bisa terjadi karena, selain kondisi reproduksi yg sehat dari pihak wanita dan pria, tentunya perlu ridho dan izin-Nya, selaku Sang Maha Pencipta.

Oke, setelah sy selesai terapi dengan segala macam regulasi hormonal dan stimulasi ovulasi, suami mulai periksa ke Androlog (Sp.And) untuk menyelesaikan masalah leukositosisnya. Tanggal 14 Agustus 2019, kami berkonsultasi dg dr. Seso Sulijaya Suyono, Sp.And di RSKIA Sadewa. Oiya ruang periksa untuk poli Andrologi ada di Klinik IVF RSKIA Sadewa yaa, gedungnya ada di bagian belakang RS gitu, gedung baru. Kesan pertama melihat dr. Seso ”charming dan ramah”. Beliau beneran masih muda, cocoklah untuk konsultasi lebih santai.

Pertama-tama kami menyodorkan semua hasil analisa sperma (AS) dari awal hingga yang terakhir yg sempat kami konsulkan ke dr. Agung. Kemudian beliau mengamati adanya leukosit dan konsentrasi sperma yg fluktuatif dari hasil AS suami sy. Fluktuatif di sini maksudnya, pemeriksaan tgl sekian konsentrasi sangat tinggi, kemudian cukup, dan ada yg konsentrasinya rendah. Lalu dr. Seso melakukan pemeriksaan fisik ke suami sy dg cara melakukan inspeksi (observasi) dan palpasi (rabaan) pada area buah zakar dan sekitarnya. Selama proses pemeriksaan fisik, suami diminta berdiri, melepas celana dalam, kemudian diminta untuk bernafas biasa kemudian mengejan (kalau gak salah inget disuruh mengejan/valsalva maneuver). Hasilnya bgmn? dr. Seso mengatakan teraba semacam ”cacing” di kedua sisi bagian atas buah zakar. Lalu sy diminta juga untuk melakulan rabaan agar mengetahui ”cacing” tsb. Sy merasa benar itu teraba seperti ”cacing”.

Apaan tuh ”cacing”? Oke, dr. Seso menjelaskan kemungkinan suami sy mengalami varikokel bilateral (kedua sisi) dari hasil palpasi tsb. Namun untuk memastikannya perlu pemeriksaan lebih lanjut. Varikokel itu apa sih? Varikokel merupakan kondisi dimana terjadi pembengkakan pembuluh darah vena di kantong zakar. Seharusnya pembuluh darah vena ini normal-normal aja, tp pada kondisi varikokel, ada pembengkakan gitu, dan saat dilakukan pemeriksaan fisik teraba seperti ”cacing”. Yaa kita bisa mengibaratkan ini semacam varises di kaki guys, tp ini varisesnya di buah zakar. Apa saja gejala varikokel? Jujur, suami sy tidak merasakan gejala apa2, tidak terasa nyeri juga di area buah zakar. Tapi dr. Seso menyampaikan ada juga beberapa pasien yg menyampaikan adanya keluhan nyeri. Jika ingin tahu lebih lanjut ttg varikokel bisa googling yaa guys, soalnya kondisi masing-masing pasien berbeda-beda.

Lanjut yaa, suami ditanya juga apakah ada riwayat cidera pada area zakar saat kecil? Suami menjawab tidak ada riwayat tsb. Faktor risiko terjadinya varikokel bisa karena memang bawaan dari lahir, maupun adanya trauma/cidera pada area zakar. Kemudian kami bertanya, bagaimana cara mengobatinya dok? Beliau menyampaikan umumnya varikokel diobati dg operasi. Eits, tp untuk operasi ini perlu beberapa syarat yaa gaes. Jd tidak bisa langsung request untuk operasi hehehe. Oiya, hasil AS yg menunjukkan leukositosis dan fluktuasi konsentrasi sperma bisa juga mengarah ke kondisi varikokel ini. Tp dr. Seso menyarankan suami untuk tetap tenang dulu, karena hasil pemeriksaan baru sampai pada pemeriksaan fisik. Untuk mendiagnosis varikokel perlu pemeriksaan lebih lanjut dg USG testis.

Lalu tindak lanjutnya apa? dr. Seso memberi rujukan ke suami untuk melakukan kultur sperma. Apaan lagi tuh? Jadi kultur sperma ini merupakan salah satu pemeriksaan sperma untuk mengetahui ada tidaknya bakteri/virus/jamur dan uji kepekaan terhadap antibiotik. Tujuannya agar Androlog bisa memberikan terapi antibiotik yg sesuai dg kondisi pasien. Suami dirujuk untuk tes kultur sperma di Lab Prodia Jogja (infonya cuma bisa dilakukan di sana, tapi mohon diupdate mgkin tempat lain sudah ada yg bisa kultur sperma). dr. Seso mencoba akan menuntaskan leukositosis ini dg obat dulu sebelum meminta suami untuk USG testis dll sampai operasi varikokel.

Kami juga menanyakan kira2 tindakan non farmakologi apa yg bisa dilakukan untuk mencegah keparahan dari varikokel ini. Beliau menyampaikan, mgkin tindakan non farmakologi tidak banyak membantu sih. Tapi tidak apa-apa jika mau olahraga, menghindari menggunakan celana yg ketat, mengkonsumsi tauge (tauge mengandung antioksidan, tapi tidak menyembuhkan varikokel yaa).

Sebenarnya penjelasan dr. Seso ini detail dan banyak, tp mohon maaf daya ingat sy kurang baik, jd hanya sy sampaikan hal-hal yg sy ingat sj 😁. Konsultasi pertama dg beliau sepertinya sekitar 35 menit deh karena selain beliau detail dlm menjelaskan, kamipun bisa leluasa bertanya. Selanjutnya suami diminta kontrol kembali setelah mendapatkan hasil kultur sperma.

Biaya periksa di RSKIA Sadewa
Pendaftaran Rp 8.000,-
Konsultasi dan periksa Sp.And Rp 120.000,-
Jasa sarana dan prasarana Rp 50.000,-

To be continued....

Gambar Perbandingan Kondisi Normal dan Varikokel
Sumber: Google

PENGALAMAN PROMIL PART 7: STIMULASI OVULASI


12 Juli 2019 selepas mendapat resep obat hormon yg cukup rumit, sy lgsg berangkat ke Solo untuk workshop penulisan buku ilmiah mewakili kantor. Sy berpikiran untuk menebus obat tsb di Solo saja. Sampai pada akhirnya sore hari, sy mencoba ke apotek K24 dan Kimia Farma yg ada di dekat area Hotel Best Western Solo. Tidak ada satupun apotek tsb yg menjual Esthero. Padahal malam ini sy harus sudah memulai minum obat tsb. Akhirnya sy mencoba kontak teman yg tinggal di Solo dan direkomendasikan ke Apotek Kondang Waras karena di sana pasti stok obatnya komplit. Alhamdulillah stlh dikonfirmasi via telp, memang tersedia Esthero di sana dan sy pun bergegas naik gojek ke sana. Harga esthero 0.625 mg 7 tablet sekitar Rp 60.000,- (kalau sy tidak lupa). Sy juga sekalian menebus resep Norelut. Harga norelut 5 mg 24 tablet sekitar Rp 150.000,-. Obat antibiotik Levofloxacin 500 mg untuk suami ditebus di Jogja karena beliau tidak ikut workshop di Solo. Harga Levofloxacin 7 tablet sekitar Rp 14.000,-.

Oiya guys, sempat kelupaan. Sebenarnya setelah sy stop promil dari dr. Enny, sy sempat promil alami juga dengan membeli alat pendeteksi ovulasi yaitu Ovutest scope. Alat ini berfungsi untuk mendeteksi waktu ovulasi dan alat ini semacam mikroskop kecil gitu deh nanti mendeteksinya pakai air liur. Tapi it did not work for me, soalnya setiap kali ngecek, gak ada gambar apa-apa sesuai di buku panduan alatnya 😂. Harga ovutest scope di apotek K24 sekitar Rp 260.000,- (kalo gak salah ingat).

Selain itu, sy sempet nitip buah zuriat dan kurma muda saat mertua umroh. These did not work for us (again). Buah zuriat ini ternyata susah bener dibelahnya. Sampai ngerusak beberapa pisau 😆 harus pake gergaji memang untuk membelahnya. Lalu setelah dibelah, buah beserta kulitnya direbus gitu. Nanti suami dan istri minum air rebusannya. Baru sekali minum, kami langsung tidak melanjutkan karena rasanya tidak bisa diterima lidah 😆. Kurma muda juga tidak sy makan sama sekali karena tidak tahu cara konsumsinya. Saat sy pegang, kurma mudanya berasa keras 😂. Terus sy juga follow IG dr. Suryo Bawono. Beliau ini SpOG yg hitss banget di Pekanbaru, Riau. Beliau selalu memberikan pesan positif di IG nya. Hal yg sy ingat dari IG beliau adalah mengamalkan QS Maryam 1-11 saat ikhtiar mendapatkan keturunan. Sy pun mulai membacanya selepas sholat dan mencoba mengamalkan arti dari surat tsb. Sy juga nonton youtube channel dr. Boy Abidin (host dr. Ozz Indonesia) karena banyak informasi yang penting juga untuk mempersiapkan kehamilan.

Oiya, terus sebelum sy memutuskan pilihan ke dr. Agung, sy juga sempat googling tentang dokter yg tepat untuk promil. Hasil googling menunjukkan bahwa kita lebih baik mencari SpOG (KFer). Jadi memang yg konsultan fertility, karena SpOG ini bermacam-macam fokusnya. Namun ada juga beberapa wanita lebih menyukai mencari dokter yg perempuan demi kenyamanan (tanpa mengetahui dokter tsb konsultan fertility atau tidak). Sayangnya di Jogja yg SpOG (KFer) berjenis kelamin laki-laki. Sy sih tidak masalah dg hal tsb karena memang niatnya ingin promil.

Oke, lanjut lagi yaaa. Setelah obat hormon habis, sy kembali kontrol ke dr. Agung pada mens hari ke 2 di RSKIA Sadewa pada tanggal 6 Agustus 2019. Kata beliau kondisi rahimku baik dan bersih, serta tidak suspek endometriosis. Itu berarti obat hormon ini memberi efek yg baik pada diri sy. Kemudian dr. Agung menjelaskan ttg stimulasi ovulasi. Why? Agar sy mengalami ovulasi, karena kondisi sy di bulan lalu kemungkinan besar tidak terjadi ovulasi. Cara stimulasi ovulasi dg apa? Beliau meresepkan obat dipthen 1x1 selama 7 hari (sy lupa dosisnya berapa) dan obat mulai diminum di hari ke 2 mens tsb. Selanjutnya dr. Agung meminta sy kembali kontrol seminggu kemudian untuk mengetahui efek dari dipthen tsb apakah bisa menstimulasi sel telur sy atau tidak. Oiya, suami diminta untuk analisa sperma (AS) ulang dan minggu depan saat sy kontrol, suami diminta untuk sudah membawa hasil AS.

Biaya periksa di RSKIA Sadewa
Biaya periksa SpOG(K) Rp 70.000,-
Jasa sarana dan prasarana Rp 40.000,-
Pendaftaran Rp 8.000,-
Dipthen 7 tablet Rp 140.000,-


Tanggal 12 Agustus 2019, sy kembali kontrol ke dr. Agung di RSKIA Sadewa dapet no.antrian 8. Di RSKIA Sadewa beliau praktik hari Senin dan Rabu jam 19.00~selesai, dan Sabtu jam 15.00~selesai. Nah saat itu hari Senin dan sy baru diperiksa sekitar jam 8 malam. Alhamdulillah dari hasil USG TransV menunjukkan bahwa dipthen memberi efek yang baik untuk menstimulasi sel telur sy. Dipthen bekerja dg merangsang peningkatan jumlah hormon yg mendukung pertumbuhan dan pelepasan sel telur yg matang (ovulasi).

Selanjutnya dr. Agung meresepkan obat progynova untuk diminum 2x1 selama 5 hari. Obat progynova ini masih termasuk obat hormon yg mengandung estrogen sehingga dapat mengatur siklus menstruasi agar teratur (googling yaak bentuk kemasan progynova, seinget sy dlu ada smcm kode hari/tanggal. Sy lupa gak foto obatnya). Jika bulan selanjutnya mens sy teratur, maka sy tidak perlu kontrol lagi. Tinggal menunggu kehamilan secara alami. Beliau juga meminta kami memikirkan untuk inseminasi, jika ingin melanjutkan promil lebih jauh lagi. Hal ini berarti masalah sy sudah tuntas 💃💃.

Nah, lalu bagaimana dg suami? Hasil AS nya menunjukkan teratozoospermia (morfologi sperma yg normal hanya 2%, menurut PERSANDI 2015 normalnya lebih atau sama dengan 5%), leukositosis (angka leukosit naik lagi menjadi 1.7 juta/ml), dan agregasi positif (again). Why? Antibiotiknya gak ngefek kah? Entah gaes. Kami juga bingung. Kalau sama dr. Agung tuh harus tanpa leukosit yaak kl mau inseminasi or bayi tabung, hehe. Suami kemudian dirujuk ke Androlog (Sp.And), dan diminta memilih mau ke dr. Dicky Moch. Rizal, Sp.And atau dr. Seso Sulijaya Suyono, Sp.And. Setelah kepo ke dr. Agung tentang keduanya, kami mantap memilih ke dr. Seso sajaa 🤣. Why? Soalnya beliau masih muda biar lebih nyaman komunikasinya sih 😁.

Biaya periksa di RSKIA Sadewa
Biaya periksa SpOG(K) Rp 70.000,-
Jasa sarana dan prasarana Rp 40.000,-
Pendaftaran Rp 8.000,-
Progynova 10 tablet Rp 110.000,- (sekitar segitu, sy lupa pastinya)
Analisa sperma Rp 140.000,-
Pendaftaran AS Rp 15.000,-


Setelah selesai periksa dg dr. Agung, sy mendaftarkan suami untuk periksa ke Androlog di RSKIA Sadewa tanggal 14 Agustus 2019. FYI dr. Seso memiliki jadwal praktik di RSKIA Sadewa sama dg dr. Agung. Oiya dr. Agung berpesan untuk menyelesaikan masalah leukosit suami dlu baru bisa kembali ke dr. Agung lagi jika ingin lanjut inseminasi.


To be continued....


Gambar Obat Dipthen
Sumber: Google

Gambar Ovutest Scope
Sumber: Google

Gambar buah zuriat
Sumber: Google


Gambar kurma muda
Sumber: Google


PENGALAMAN PROMIL PART 6: REGULASI HORMON REPRODUKSI


Lanjut yaak. Jadi setelah mengetahui mens, sy bergegas ke Klinik Permata Hati RSUP dr. Sardjito Yogyakarta (PH RSS) satu hari kemudian (12 Juli 2019). Seperti pertemuan sebelumnya, sy mendapat no.antrian 1 😂. Setelah masuk ruang periksa, sy memberikan hasil tes hormon dan hasil analisa sperma (AS) suami.

Oiya, hasil tes hormonku sbb:
-tes hormon LH, FSH, Estradiol, dan Progesteron dilakukan pada hari ke 16 menstruasi.
-hasil LH 2.58 mUI/ml. FSH 4.60 mUI/ml. Estradiol 80.85 pg/ml. Progesteron 4.86 ng/ml. Nilai normal dari masing-masing hormon berbeda-beda sesuai ”phase” seseorang. Karena sy tes di hari ke 16 mens, maka dianggap sbg ”luteal phase” (apaan sih itu, bisa googling yaa guys). Batas normal pada fase luteal untuk LH 0.2-6.5; FSH 1.5-7.0; Estradiol 43-214; Progesteron 1.5-20.

Kemudian komentar dari dr. Agung, sy mengalami low progesteron pada fase luteal, sehingga kemungkinan besar tidak terjadi ovulasi dan bermanifestasi pada menstruasi yg berkepanjangan (Abnormal Uterine Bleeding/AUB). Beliau juga menyampaikan bahwa progesteronku rendah dan estrogenku tinggi. Perbandingan selisihnya bisa 6:80. Oleh karena itu, terjadilah ketidakseimbangan hormon. Seharusnya perbandingan progesteron dan estrogen tidak terlalu jauh pada fase luteal.

Bagaimana solusinya? dr. Agung menyampaikan ketidakseimbangan hormon ini diobati dg obat hormon alias kontrasepsi untuk meregulasi hormon. Sy diresepi Esthero Estradiol dan Norelut. Kemudian dr. Agung bertanya ”kira-kira hidupmu rumit tidak? Karena jadwal minum obat untuk regulasi hormon sangat rumit 😁”. Sy pun menjawab ”tidak apa-apa rumit dok, biar tambah rumit hidup sy 🤣”. Dan beginilah at
uran minum obat rumit sbb:

-Esthero estradiol diminum dalam dosis 0.3 mg 1x1 pada tanggal 12, 13, 14, 15, 16 Juli 2019. Padahal sediaan Esthero estradiol ini 0.625 mg. Jadi sy harus membaginya menjadi dua (seenggaknya ilmu pemberian obat ketika S1 dulu bisa sy terapkan untuk sy sendiri 😆).
-tanggal 17, 18, 19, 20 Juli 2019, esthero estradiol diminum dg dosis 0.625 mg 1x1 (aman, ga perlu membagi-bagi obat).
-tanggal 19 dan 20 Juli 2019 , sy minum Norelut 5 mg 1x1.
-tanggal 21-31 Juli 2019, sy minum Norelut 10 mg 1x1.

Sy wajib banget membuat reminder di HP terkait jadwal minum obat tsb. Susah kalau harus mengingatnya 😆. Setelah itu dr. Agung menyarankan sy untuk kembali kontrol setelah obat habis dan datang saat mens hari ke 2. Beliau juga memberi pilihan ke sy untuk melanjutkan periksa di PH RSS atau ke RSKIA Sadewa sama saja. Beliau praktik di kedua tempat tsb.

Kemudian, hasil AS suami menunjukkan adanya sel leukosit 1.2 juta/ml (nilai normal sesuai rujukan WHO 2010 maupun PERSANDI 2015 adalah kurang atau sama dengan 1juta/ml). Aglutinasi negatif (normalnya negatif), tapi agregasi positif (normalnya negatif). Konsentrasi sperma 30.5 juta/ml namun hanya 1% morfologi normal (normalnya lebih atau sama dengan 5% menurut PERSANDI 2015). Kesimpulannya Teratozoospermia (morfologi sperma di bawah normal menurut PERSANDI 2015) dan leukositosis. Oiya untuk AS, suami tes di RSKIA Sadewa dg biaya Rp 140.000,- dan biaya administrasi Rp 15.000,-.

Setelah dr. Agung menjelaskan hasil dari AS, aku agak kaget sih karena sebelumnya hanya ada masalah leukositosis ajaa. Tapi dr. Agung menyampaikan, jika leukositosis diperbaiki, maka akan memperbaiki morfologi normal spermanya juga, jadi tidak perlu khawatir. Selanjutnya suami diberi resep antibiotik Levofloxacin 1x1 selama 7 hari. Setelah obat habis, suami diminta untuk AS ulang 😁.

Biaya periksa di PH RSS
Konsultasi dg spesialis (K) Rp 115.000,-
Pendaftaran Rp 13.000,-

FYI bagi teman-teman yg mungkin ada rencana untuk analisa sperma, berikut sy share informasi syarat pemeriksaan sperma di RSKIA Sadewa Yogyakarta.
1. Semua pasien Lab Andrologi bisa mendaftar dulu ke Lab melalui WA ke nomor 081779994904 atau via telp ke RSKIA Sadewa (0274) 489118.
2. Jika Anda merupakan pasien baru, maka perlu mendaftar dulu sbg pasien RSKIA Sadewa di bagian pendaftaran pada saat Anda datang ke sana.
3. Syarat analisa sperma minimal 48 jam dan maksimal 7 hari dari hubungan seks atau ejakulasi terakhir.
4. Analisa sperma dilayani setiap hari maupun tanggal merah pada jam 08.00-17.30 WIB.
5. Biaya Rp 140.000,-
Namun karena saat ini sedang dalam kondisi pandemi, sy kurang tahu apakah jadwalnya tetap seperti itu atau berubah. Lebih baik memastikan via telp ke RSKIA Sadewa yaaa.

To be continued....